Monday, November 12, 2012

Idola dan Perempuan



Menjadikan seseorang sebagai idola bukanlah hal baru yang datang saat ini. Masih ingat dalam ingatan, ketika saya melihat poster-poster Rolling Stone, banyaknya majalah Hai, ataupun kaset-kaset lagu barat yang saat itu masih belum bisa saya pahami dalam kamar kakak sepupu saya, hal ini juga terjadi ketika saya remaja dengan bermunculannya bintang seperti Agnes Monica, Britney Spears, Sum41, Blink184 ataupun bintang-bintang Jepang dan Korea saat ini. Bermunculannya para bintang ini jelasnya didasari oleh fan-base yang dibentuk oleh penggemarnya masing-masing. Semakin banyaknya fan semakin memperkuat fandom itu sendiri yang bagi saya seperti bentukan gunung es yang fan dan fandom-nya itu sendiri berada di dasarnya. Datangnya sangat cepat dan tak terelakkan, namun runtuhnya pun dengan sangat mudah dan cepat.

Kehadiran para penggemar ini memunculkan bentuk-bentuk pemujaan atau pengidolaan-pengidolaan yang diikuti oleh peniruan-peniruan gaya bicara, potongan rambut ataupun berpakaian. Kalau diperhatikan, kebanyakan dari penggemar-penggemar ini adalah para remaja putri. Usia remaja yang merupakan usia adaptif memungkinkan para remaja putri ini melihat kemudian beradaptasi terhadap apa yang mereka lihat dan kemudian menirunya. Cara peniruan ini beraneka ragam bentuknya. Ada yang terlihat dari peniruan gaya berpakaiaan seperti bintang-bintang yang mereka lihat, atau bahkan gaya bicara. Dan hal-hal seperti ini dapat dilihat pada masa berkembangnya bintang-bintang yang berasal dari Korea saat ini. 

Masuknya industri hiburan asing seperti dari Korea baik perkembangan boy/girl bandnya ataupun dramanya jelas bukan hal yang baru, karena sebelumnya sudah didahului oleh bintang-bintang yang berasal dari Mandarin seperti F4 yang terkenal dengan drama Meteor Gardennya ataupun banyaknya drama-drama dari Jepang, mulai dari Oshin hingga Tokyo Love Story. Maraknya hiburan Korea ini bukan hanya dapat diakses oleh para remaja saja, tetapi juga para ibu-ibu rumah tangga. Tontonan drama-drama Korea bukan hanya dapat dinikmati dari DVD seharga delapan ribuan per keping tetapi sudah masuk dalam ranah domestik perempuan melalui televisi. Ketampanan dan kecantikan para anggota boy/girl band yang menari sambil menyanyi ataupun sebaliknya tidak hanya bisa dinikmati dalam konser berharga jutaan rupiah saja tetapi juga sudah dengan mudah dinikmati dalam program-program musik televisi yang menayangkan video-video klip boy/girl band tersebut. Dan ini yang menurut saya agak aneh, program televisi yang mengusung tema musik-musik Indonesia terpaksa disisipkan oleh satu atau dua video klip dari boy/girl band Korea. 

Kesukaan perempuan terhadap tokoh-tokoh idola ini merupakan hal yang bagi saya menarik untuk dibahas. Melihat fenomena seperti diatas tadi menimbulkan satu pertanyaan dalam diri saya, mengapa penggemar para artis-artis Korea ini lebih banyak berasal dari kalangan perempuan? Mencoba menjawab hal ini, saya teringat teori mirroring Lacan. Ketidakkomplitan kastrasi perempuan menyebabkan perempuan mencari pemenuhan- pemenuhan lain. Hadirnya idola ini, yang saya asumsikan termasuk dalam konsep ‘ideal-I’ merupakan sebagai salah satu bentuk terhadap pemenuhan-pemenuhan tersebut. Maka dari hal tersebut, muncullah pengidolaan-pengidolaan yang kemudian menyebabkan adanya peniruan-peniruan gaya idola tersebut, atau disebut juga dengan istilah mimicry. Oleh karena itu, pengidolaan terhadap idola tersebut dapat menjadi sebuah escapism. Pelarian diri ini apabila dihubungkan dengan budaya menonton drama-drama Korea yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga jelas dapat menjadi sebuah pelarian dari rutinitas domestik atau bahkan permasalahan rumah tangga mereka.

Selain itu, pengidolaan terhadap bintang-bintang Korea di kalangan perempuan juga mengubah konsep keidealan atau ketampanan seorang laki-laki. Hal ini membuat saya tersadar bahwa tampan dan cantik itu hanya semata sebuah konstruksi sosial saja yang terkonstruksi dari sosok-sosok ideal yang dihadirkan oleh media. Apabila saya bertanya pada ibu saya, mungkin laki-laki tampan menurut dia bukanlah seperti Lee Min Ho (bintang Korea saat ini) karena jelas ibu saya mungkin lebih memilih Barry Prima ataupun George Rudi. Ketampanan Pierce Brosnan, ataupun keperkasaannya Barry Prima dapat dengan mudah tergantikan oleh sosok-sosok manis dan oriental  seperti Lee Min Ho yang dianggap ideal oleh remaja saat ini. Hal ini menegaskan bahwa gambaran laki-laki ideal itu tidak akan selalu sama, atau ‘charming prince’ yang terbentuk dalam fantasi perempuan akan selalu berubah tergantung pada apa yang mengkonstruksinya, bisa saja media. Dalam hal ini, budaya menonton drama ataupun boy/girl band Korea di kalangan perempuan bukan hanya menciptakan kesenangan yang lain tetapi juga sosok ideal yang lain.

Lalu, pengidolaan-pengidolaan ini bukan saja dapat menciptakan peniruan-peniruan seorang penggemar terhadap seorang idola tetapi juga menimbulkan pembelajran atau bahkan percampuran budaya dan bahasa populer. Selain perubahan fashion dalam berpakaiaan dan gaya rambut, perubahan bahasa pun dapat terlihat. Saat ini, penggunaan bahasa ‘Saranghaeo’ bisa lebih populer dibandingkan ‘I love you’. Menjamurnya rumah makan Korea di Indonesia, dan juga konsumsi mie ramen dan Kimchi bisa melebihi ketenaran konsumsi mie Aceh dan Jawa. Hal ini disebabkan karena budaya menonton itu sendiri bisa menjadi sebuah pembelajaran terhadap budaya asing, dalam hal ini Korea. Mungkin saja, para remaja saat ini lebih mengenal budaya-budaya Korea yang mereka tonton daripada budaya Indonesia sendiri. Terlebih lagi, apabila hal ini menjadi konsumsi perempuan setiap hari, maka hal ini bisa menyebabkan meleburnya atau bahkan hilangnya budaya Indonesia ke generasi selanjutnya, dengan pertimbangan perempuan sebagai ibu yang mengajarkan budaya itu sendiri kepada anak-anaknya kelak.