Tuesday, May 31, 2011

Messy Mels


To be present in the world implies strictly that there exists a body which is at once a material thing in the world and a point of view towards the world
Second Sex, Simone De Beauvoir –

By quoting Beauvoir’s statement let me write as subsequent: she is a woman. She lives by regimes of dieting, makeup, exercise, dress, cosmetic surgery, politeness, and increasingly men. She tries to sculpt her body into shapes which reflect the dominant societal norms. Hair straightening, blue colored contact lenses, surgical reform of noses, lips, and breast, are practices which the material shapes of her body is closely correspond  to communicate to a social ideal, dazzling the privileged point which certainly kinds of, typically, white, and body occupy. Her body is trained, shaped, and impressed. In her childhood her young body is experienced in a different way from the young boy. He is encouraged to climb trees and play rough and violent games. She is encouraged to treat her whole person as a doll. When the puberty comes her menstrual cycle is a burden. Her vagina is used for his sexual pleasure and the womb is merely the place of capital investment, the resulting child, over worth money on the slave market. Her hands were demanded to nurse and nurture the man and his family. She is weaker than man, she has less muscular strength. She can lift less heavy weights.  However, her back and her muscle pushed into field labor where she was forced to work like men. Consequently, she has as much muscle as any man, and can do as much work as any man. She has ploughed, and planted, and gathered into barns. She could work as much and eat as much as a man.  And isn’t she a woman?

Am I a robot?

Saya tidak dapat memejamkan mata karena isi kepala saya begitu penuh. Saya tidak bisa untuk terlelap karena saya tidak bisa menuangkan semua yang ada dalam kepala saya. Ide-ide, impian, angan-angan, khayalan, peristiwa kemarin, kenangan, dan rencana masa depan bermunculan satu persatu dalam pikiran saya.
Sempat saya berpikir; andai saya robot, mungkin saya tidak perlu untuk beristirahat, tidur dan terlelap. Andai saya robot mungkin saya dapat bekerja 24 jam/hari tanpa perlu merasakan lelah dan sakit – karena dua hari ini saya hanya bisa terbaring tak berdaya diatas kasur mungil ini dalam ruangan yang tidak terlalu besar untuk menampung satu kasur, satu lemari, dan badan saya yang besar ini – ataupun kalau saya robot saya tidak perlu merasakan pusing untuk menghadapi sang raja api esok hari dan kemudian beraktifitas sehari penuh. Andaikan saya sebuah robot, saya tidak perlu menghiraukan kesehatan badan saya yang masih tahan menerima bercangkir-cangkir kopi, berbatang-batang rokok, bergenggam-genggam camilan berkolesterol, dan hidup satu kamar bersama makhluk-makhluk kecil yang katanya menjijikkan dan tak bernama, karena saya memang tidak mengetahui nama jelas mereka masing-masing dan hanya mengetahui bentuk mereka, dari mulai kecil berwarna merah dan berbaris rata, kecil bising dan menggigit, kecil putih berkaki banyak sampai besar hitam berekor panjang. Kalaupun saya robot saya tidak perlu malu dengan bentuk tubuh saya yang menurut ibu, bibi, nenek dan semua perempuan pada umumnya adalah tidak ideal dan proporsional (yang sampai sekarang saya pun masih tidak dapat mendefinisikan seperti apa bentuk ideal perempuan itu). Dan kalaupun saya robot saya tidak akan mengalami masa satu bulan sekali yang membuat saya tengkurap dan bergulingan dari satu pojok ke pojok kamar saya yang lain, yang membuat saya tidak bisa duduk, berdiri, berjalan, dan berlarian dengan bebas. Saya tidak akan mengenal lemah, ringkih dan rapuh, merasakan terluka, mengeluarkan berjuta-juta air mata, berpura-pura tegar dan kuat, dan tidak perlu menjadi perempuan ataupun laki-laki. Itu pun kalau saya sebuah robot.
Masih dengan pemikiran saya, kalaupun saya sebuah robot; saya tidak perlu mengulang adegan-adegan pagi kemarin, siang kemarin, dan sore kemarin atau mengenang gambaran-gambaran kejayaan empat, tiga, dua ataupun satu tahun yang lalu. Saya pun tidak mungkin berani bermimpi untuk menjadi perempuan sukses dengan keluarga kecil bahagia – sebuah mimpi yang sederhana bukan? – kalau saya sebuah robot. Mungkin saya pun tidak akan mempunyai berbagai rencana masa depan yang indah, saya tidak akan mempunyai beribu-ribu ide dalam otak kecil saya yang berebutan untuk dilahirkan dalam dunia saya yang juga kecil, dan saya pun tidak akan mungkin memiliki gelembung-gelembung berwarna merah muda, violet, hijau, jingga, kuning dan ungu yang berparaskan laki-laki idaman dan ideal yang saya impikan sebagai pendamping hidup untuk berbagi secuil cinta dari seluruh cinta yang ada di dunia ini, yang kemudian pecah sebelum saya sempat menyentuh gelembung itu satu per satu, kalaupun saya sebuah robot.
Ya…walaupun hanya secuil cinta, tapi manusia yang berpikiran andaikan dia robot ini ternyata masih bisa merasakan sebuah hal kecil nan abstrak yang bernama cinta. Cinta yang masih terlalu sulit untuk saya definisikan, cinta yang terlanjur datang dan pergi silih berganti. Itu mengapa saya berpikiran andai saya sebuah robot; saya mungkin tidak akan bisa merasakan jatuh cinta.
Dan andai saya robot saya tidak akan menghabiskan malam saya ini dengan menuliskan pikiran kacau saya ini tentang menjadi robot, dan memikirkan berbagai kemungkinan kalau saya sebuah robot. 

Mel, 03:06 a.m.            

#Day3 Hebat VS Biasa


Dua puluh lima menit yang lalu tepatnya aku dan salah satu teman kostku telah sedang membicarakan tentang menjadi perempuan hebat atau biasa. Seperti apakah perempuan hebat itu? Apakah dengan dia mempunyai karir hebat dan berpenghasilan yang cukup baru bisa disebut sebagai perempuan hebat? Atau dengan dia menjadi istri seorang pejabat kaya? Ataukah dia harus mempunyai tubuh molek dan indah layaknya selebritis dan digandrungi banyak laki-laki? Dan, apakah seorang perempuan yang patuh pada kodratnya, menjadi ibu dan istri yang baik, yang kesehariannya selalu mengurus anak, suami, mertua dan rumahnya  adalah seorang perempuan yang biasa?
Teman satu kostku itu menjawab kalau menjadi perempuan hebat adalah dengan menjadi perempuan yang ideal di mata suaminya. Dia berpikir bahwa hal itu sudah cukup baginya. Sekalipun, sosok ideal bagi suaminya adalah seorang perempuan yg patuh dan selalu menaati perintah dan permintaan suaminya dari mulai urusan lahir sampai batin mungkin juga termasuk memakaikan dasi sampai membukakan kaos kaki suami atau bahkan mencucikan kedua kaki suaminya. Walaupun dirinya tidak seideal itu, dia akan berusaha untuk menjadi ideal di mata suaminya. Dan aku menjawab, ‘ya, itu memang perempuan hebat!’. Bahkan aku pikir perempuan itu sangat hebat, karena tak mudah memang bagiku untuk melakukan hal seperti membukakan sepatu atau memakaikan kaos kaki padahal laki-laki tersebut mempunyai dua tangan yang masih utuh, sehat, dan dalam keadaan sadar.
Entah pikiranku terlalu ekstrim atau modern, atau karena aku terlalu banyak menelan bulat-bulat teori-teori feminisme semasa kuliah yang sampai sekarang aku sadari masih belum bisa aku lahap semua. Sebenarnya cukup bagiku hanya menjadi seorang perempuan saja, tidak perlu menjadi hebat tapi juga tidak biasa. Ah, walaupun aku sendiri belum tahu arti menjadi seorang perempuan, dan harus menjadi perempuan seperti apa. Ya, karena secara dan sedari lahir aku sudah menjadi perempuan dan aku terpenjara dalam sebuah kelamin yang di/ter-identifikasikan sebagai perempuan yang kemudian terkonstruksi secara sosial (bahkan semenjak Adam dan Hawa diciptakan) bahwa aku yang perempuan harus berpasangan dengan laki-laki yang memang sudah terkonstruksi secara sosial dan juga agama sebagai sosok yang wajib memimpin – dalam hal ini liannya;perempuan – karena kalaupun simbolisasi tersebut berbalik, apakah konstruksi tersebut akan berubah? Aku pikir aku tidak perlu menjawab ataupun merubah hal yang memang sudah ada dan tercipta dengan sendirinya. Ya, karena aku bukanlah tipe orang yang dengan repotnya ingin membalikkan keadaan yang sudah terkonstruksi dengan indahnya atau sebenarnya membalikkan keadaan itu sendriri pun sebenarnya tidak akan menyelesaikan hal ini (Ah, entah kapan keadaan di dunia ini bisa menjadi setara!)  
Aku yang adalah perempuan seperti layaknya perempuan lainnya, mempunyai satu gelembung besar yang berisikan impian-impian yang sampai saat ini belum tercapai; aku ingin memiliki teman hidup yang tidak menuntut aku untuk menjadi seperti perempuan-perempuan itu; yang setiap hari bangun pagi, membuat sarapan, memilihkan baju untuknya berangkat kerja serta menyambutnya setelah dia asyik seharian di kantor, menemaninya tanpa perlu menuntut untuk ditemani, membuatnya bangga dengan melahirkan anak-anak yang sehat dan lucu, menjadi perempuan yang kesabarannya melebihi persentase normal dan mengurus rumah serta semua keperluannya. Namun, aku menginginkan seorang teman hidup yang memperbolehkan aku untuk menjadi seperti perempuan-perempuan itu yang selalu cemerlang, mandiri, dan selalu berkarya, tidak mandeg dan diam, mampu dengan bebas mengutarakan argumen-argumen tentang apapun, melakukan hal-hal yang aku mau tanpa memikirkan pantas atau tidak pantas, dan berjaya. Dan juga, aku menginginkan sosok teman hidup yang bisa memandang perempuan ini sebagai sosok yang ideal dengan apa adanya dirinya, karena laki-laki itu sudah cukup ideal dalam pandanganku. Itu saja yang kumau. Apakah terlalu berlebihan? Aku tidak perlu menjadi perempuan hebat atau biasa. Aku hanya ingin menjadi perempuan yang aku mau.


                                                                                                                                                                     Mel, 18: 45 P.M 

Women And Marriage 1


 The Reasons Why I'm Still Single....

Akhir-akhir ini saya dihujani oleh banyak undangan pernikahan dari teman, partner kerja, ataupun kerabat. Mendapat undangan pernikahan adalah hal yang sangat biasa bagi saya. Namun, yang tidak saya sangka adalah salah seorang teman dekat saya, sangat dekat bahkan, mengirimkan undangan resepsi pernikahannya hanya dengan melalui sebuah pesan singkat. Teman dekat saya ini, walaupun dia laki-laki namun dia sudah saya anggap lebih dari sekedar teman atau saudara, sampai-sampai saya sendiri tidak pernah menghitung berapa banyak uang saya yang sudah dia pinjam atau pakai baik dia sengaja atau tidak sengaja untuk tidak mengembalikannya. Namun, bukan itu permasalahannya. Saya merasa mengapa saya harus jadi orang yang tidak tahu rencana pernikahannya dan terlibat langsung dalam rencana pernikahannya. “Ah, dia memang selalu begitu.” Hanya kalimat itu satu-satunya cara saya untuk memakluminya. Terlepas dari bagaimana dia mengundang saya, saya tetap datang ke resepsi pernikahannya walaupun saya harus bangun pagi untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan namun masih bisa ditempuh dengan kendaraan umum. Ternyata, resepsi tersebut memang dikhususkan untuk para keluarga dan kerabat dekat saja. Ya, saya sangat mensyukuri hal itu, ternyata saya sudah dia anggap sebagai salah satu kerabatnya.
Sepulang dari perjalanan yang melelahkan itu, saya berpikir dan termenung kemudian menuliskan sebuah kalimat: “Being grown-up means seeing your friends leave and then being alone.” di sebuah situs jaringan sosial. Cukup sulit memang untuk menjadi dewasa dengan cara seperti itu, karena saya harus menjalani hari-hari saya tanpa teman-teman yang sudah mengukirkan kenangan-kenangan indah yang sebenarnya sulit untuk saya hapus. Namun, yang sangat menyulitkan sebenarnya adalah kesendirian yang harus saya hadapi setelah teman-teman saya pergi satu per satu untuk memulai kehidupan mereka yang baru, yang selazimnya mereka mungkin tidak akan membutuhkan saya lagi, walaupun hanya sekedar berbagi rasa tentang sebuah pernikahan, “karena pernikahan itu tidak akan indah dinikmati kalau kita hanya mendengarkan cerita-ceritanya saja, tanpa pernah mengalaminya”. Itu lah salah satu statement teman saya.
Ah, pernikahan bagi saya masih terasa absurd. Entah karena saya belum memiliki alasan kenapa saya harus menikah di pertengahan usia saya yang ke-25 ini atau karena saya belum benar-benar menginginkannya. Walaupun, ibu saya selalu memaksa anak perempuan pertamanya ini untuk cepat-cepat menikah, namun saya sendiri menginginkan satu saja alasan kenapa saya harus menikah, sekalipun alasan itu adalah hanya karena sebuah unwillingness pregnancy. Sehingga, saya selalu berpikir kalau pernikahan itu adalah salah satu atau satu-satunya cara untuk membahagiakan ibu saya. Saya mengerti alasan umum yang dilontarkan setiap teman yang mau atau akhirnya menikah; baik itu karena usia yang semakin bertambah, atau karena pandangan masyarakat yang terlalu sibuk untuk mengurusi hubungan seseorang, ataupun alasan yang sangat romantis, karena takut untuk kehilangan cinta yang telah terbina atau orang yang kita cintai. Untuk dua alasan terakhir diatas pastinya tidak dapat saya jadikan alasan mengapa saya harus menikah.
Mungkin lebih enak kalau saya bicara alasan mengapa saya masih sendiri, karena saya hapal dengan jelas runutan dari ber poin-poin alasan tersebut, walau saya pun tidak akan menjelaskannya poin per poin. Sebuah alasan walaupun itu terlihat klise namun itu tetap alasan yang patut dipertimbangkan. Saya merasa dalam kesendirian saya, saya belum bertemu laki-laki yang tepat. Klise kan? Ya, mungkin untuk sebagian orang yang sudah berpasangan akan menganggap itu hal yang klise. Berpasangan itu memang indah. Semua orang pasti akan setuju dengan pendapat tersebut. Namun saya merasa diri saya terlalu berharga hanya untuk jatuh ke lubang yang salah. Maka dari itu, sebelum saya benar-benar terjun dalam satu ikatan yang salah, biarkanlah diri saya ini mempunyai sedikit waktu dan ruang untuk sekedar bermain dan mengembangkan diri. Sebelum kebebasan saya itu benar-benar terenggut. Silahkan saja menyebut hal itu sebagai alasan klise yang kedua.
 Belum bertemu laki-laki yang tepat bukan karena saya tidak pernah mencarinya. Saya memiliki banyak teman laki-laki, baik yang lebih muda, sebaya ataupun lebih tua, dan juga dari berbagai kalangan. Walaupun terkadang saya berteman dalam sebuah geng atau grup, saya adalah orang yang mampu untuk sekedar jalan bareng atau mengobrol bareng dengan teman yang tidak akrab ataupun orang baru. Maka dari itu, saya tidak masalah kalau untuk berkenalan dengan laki-laki baru dan kemudian ‘having blind date’. Ya, saya pernah mengalaminya dua sampai tiga kali. Namun, selalu saja ada hal yang tidak berjalan mulus pada akhirnya. Dan itu disebabkan karena saya yang selalu merasa, “He’s not the right one.”  Atau, “He’s not the perfect of mine.” Mungkin ini adalah alasan klise nomor tiga.
Atau karena saya tidak pernah jatuh cinta? Ah, jangan tanyakan masalah itu, karena saya adalah orang yang mudah tersentuh dan mudah untuk jatuh cinta, walaupun pada akhirnya saya sangat sulit untuk menghilangkan rasa cinta itu. Ya, banyaknya teman laki-laki membuat saya terkadang sedikit menyimpan rasa suka terhadap teman-teman saya itu. Mungkin, saya adalah orang yang tidak bisa jatuh cinta pada pertemuan pertama, kedua, atau ketiga. Tapi saya selalu jatuh cinta dan luluh hanya karena sebuah intensitas pertemanan. Tapi, pertemanan itu terlalu indah hanya untuk dirusak oleh perasaan yang membutakan. Dan akhirnya, saya tidak pernah bisa berpacaran dengan atau memacari teman saya. Sebutlah ini sebagai alasan klise keempat.
Bagaimana dengan berpacaran? Dari SMP saya sudah mengalami naik turunnya perasaan yang dipermainkan oleh satu hal yang disebut cinta dan dari SMP pula saya sudah terbiasa menjadi bintang (bintang kelas maksudnya) yang mungkin bisa dijadikan dasar sebagai gadis yang patut untuk dipacari. Dua sampai empat kali saya menolak teman laki-laki saya saat saya berada di bangku sekolahan. Berbagai macam alasan klise pula saya lontarkan pada saat itu, karena mau fokus belajar ataupun sebenarnya hanya karena satu hal, “I don’t like you boy.”  Dan hanya ada dua laki-laki yang dapat menggoreskan warna-warna indah kisah cinta semasa sekolah dan kuliah yang sekaligus menorehkan luka dan pelajaran penting nan berharga untuk selalu dikenang. Tak ada yang abadi memang, apalagi hanya untuk sebuah hubungan kasih. Pikiran skeptis saya selalu merasa bahwa sekalipun sudah berjodoh, pasti ada satu momen dimana kita akhirnya sama-sama akan mengatakan “It’s over. Sorry dear.…” Hal ini pun bisa berlaku untuk sebuah ikatan sakral seperti pernikahan. Lagi pula yang membedakan itu hanya lah akad (Janji) diatas kitab suci dan surat yang melegalkan kalau dia sudah sah menjadi milik kita. Dan saya berpikir satu-satunya cara agar kita tidak melanggar janji suci tersebut adalah dengan meyakinkan hati bahwa dia benar-benar our betrothed sebelum kita benar-benar tercebur dalam lembaga tersebut. Dan ini lah alasan klise selanjutnya, karena to be betrothed or not, that’s the question. Dan walaupun “Fate controls who walks into your life, but you decide who you let walk out, who you let stay, and who you refuse to let go.”

02 Mei 2011
     Mels