Monday, January 14, 2013

#Day4 Pagi si Pembenci Pagi

Ketukan di pintu.
Sudah berkali-kali mungkin.
"Oh, gue di rumah ternyata." Gumam si Hati.
"Iya, Mah...!" Teriakku.
Ketukan di pintu pun berhenti.
05:15.
Terdiam.
Otomatis bergerak.
Kamar mandi tujuanku.
Balik ke kamar.
Pakai mukena.
Gelar sajadah.
Sholat.

Sejenak berpikir...
Dan si Hati pun berkata: "Ah, baru dua jam."
Tidur kembali.
Deringan handphone.
Terbangun.
"Dimana lo?" suara dalam handphone.
07:38.
Tersadar.
Dalam otak sudah terprogram.
Antrian rutinitas.
"Di rumah. 2 jam lagi sampe." Jawabku jujur.
Kesal, marah-marah, dan menggerutu.
"Silahkan!" Kata si Hati.
Tapi....
"Sorry." Kata si Mulut.
Terdiam.

Lagi lagi seperti mesin dengan program yang sudah ter"install".
Bergerak otomatis.
Kamar mandi!

Rapi.
Sepi.
Karena aku yang selalu terlambat di rumah ini.
07:56.
Inilah pagi.
Pusing dan kacau.
Tanpa kopi, dan rokok.
Sepiring nasi goreng tersedia.
Lewatkan saja.
Tak berselera.

08:05.
Berangkat.
Duduk indah di pojokan bis.
Kantuk memanggil.
Tidur kembali.
10 menit.
Terbangun.
Terpejam kembali.
Namun, tidak tertidur.
Terpikir,
Satu jam kemudian, saya akan ada di....
kotak yang sama, lingkaran yang sama, sistem yang sama.
Terbangun.
Melihat keluar jendela bis.
"Hmm, so are they Maria."
Mendesah.
Tertidur kembali.
"No Surprises" nya Radiohead pun melelapkanku.
Berharap tak ada yang membangunkan.



                                                                   Di suatu pagi yang tidak pernah genap,
                                                                                     Mariya.









#Day3 Pagiku di Sarang Kabel

Alarm berbunyi. Jam 05:00 pagi.
Mengejutkan.
Ku tertidur lagi.
"Berangkat!" Suara si pemilik rumah.
Terbangun, beranjak aku ke dalam kamar.
Bercengkrama dengan kasur empuk.
Menyambung mimpi.

Terbangun kembali.
10:45.
Dalam hati: "Shit, nggak kuliah lagi! Okay, biarlah."
Tertidur kembali.
Tiba-tiba ingat sesuatu. Handphone!
Tiga pesan, dua panggilan tak terjawab.
Sistem memanggilku. 
Berontak dalam hati: "Hmm, abaikan!"

Bangun dan berjalan  ke ruang depan.
"Fiuuuuh, what a mess!" Suaraku pelan.
Mataku menyusuri setiap sudut.
Hati pun bertanya, "Mana rokok gue?"
11:05.... terhitung masih pagi.
Pagi tanpa roti, karena kopi lebih baik,
Dan rokok sudah setengah terhisap.
Merogoh tas, masih berusaha untuk menikmati secangkir kopi.
"Mesti beli dulu. Sial!"
Malas menggelayuti.
Segelas air putih pun sudah tertenggak habis.

Sepi.
Berantakan.
Karena pesta semalam.
Tanpa alkohol, laki-laki ataupun birahi.
Yang ada hanya hasrat untuk bermain dengan kata-kata.
Namun, tetap saja....
Anti klimaks.

Lapar.
11:52.
Tertegun dan berpikir.
Tahan saja.
Menyalakan komputer, melanjutkan pesta semalam.
Marina and Diamonds pun bermain dengan "I Am Not A Robot" nya.


                                                                


 Aku, pagiku, dengan rokok, tanpa kopi dan sistem.
 Mariya di Sarang Kabel



 






Monday, January 7, 2013

#Day2 Menulis dan Berbicara



Diantara berbagai rutinitas hari ini, saya berusaha untuk menggenapkan hutang-hutang tulisan saya. Bukan sok sibuk atau berasa tidak ada waktu, namun tepatnya karena malas. Kemalasan saya ini mungkin bisa saja didasari oleh kebosanan saya yang tak berujung, kebosanan dengan kata-kata karena harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah selama satu semester kemarin, lalu ketika libur menghampiri saya pun harus berkutat kembali dengan tulisan. Oh Tuhan, bahkan dalam blog pun saya membahas tugas-tugas semesteran saya! Gejala apakah ini? :D

Lalu, saat ini (ketika saya menuliskan ini) adalah momen UAS untuk para mahasiswa UNISMA. Momen UAS bagi saya yang katanya dosen tapi juga nyambi jadi mahasiswa adalah momen kebebasan sementara. Ya, hanya sementara karena setelah itu akan dihujani butiran-butiran koreksian bukan butiran debu. Euh? #TerRumor LOL. Yang mengganggu ketika UAS itu sebenarnya bukan hanya bikin soal, ngawas, dan mengurusi hal ini dan itu, tetapi juga menyaksikan postingan para mahasiswaku tercintaaaah di jejaring-jejaring sosial, yang isinya melulu tentang kata yang beribu-ribu. Beribu-ribu kata? Hmm, kalo pakai permainan ‘Hastag’ kayanya bisa jadi trending topic Twitter. Memangnya apa yang sulit dengan beribu-ribu kata? Bukankah kalau kita bicara, kita bisa mengeluarkan lebih dari ribuan, bahkan jutaan kata kan? Itulah, perbedaan berbicara dengan menulis. 

Menulis pastinya tidak semudah berbicara, walaupun sebenarnya ada beberapa orang yang lebih memilih untuk menulis dari pada berbicara. Menulis seperti memiliki banyak polisi pengatur, tidak seperti berbicara yang mungkin hanya ada beberapa polisi pengatur. Keteraturan jelas dibutuhkan dalam menulis, apalagi tulisan yang sifatnya akademis.   

Friday, January 4, 2013

#Day1 Maria dengan Resolusinya

Tahun baru datang lagi! Apakah sudah saatnya untuk membuat target-target tahun 2013? 

Hmm, sebenarnya saya adalah salah satu jajaran orang-orang tanpa rencana, tanpa target. Hidup berjalan dengan normal bagi saya sudah cukup, toh tahun baru hanyalah pergantian tanggal 31 ke tanggal 1 yang menjadi perbedaan adalah hitungan bulannya sudah genap 12 bulan tanda satu tahun. Lagi lagi, tak ada rencana, tak ada target. Cuma, ada baiknya kalau saya me(re)deskripsikan 2012. 

2012 yang telah berakhir itu, saya resolusikan sebagai masa-masa untuk lebih bahagia, karena 2011 yang telah saya lalui itu saya simpulkan sebagai masa-masa membosankan, cuma ngajar, kerja, jalan sama teman, ya, begitu saja. Lalu saya berharap bahwa 2012 akan menjadi momen bagi saya untuk lebih menerima dan lebih bahagia. Namun, ternyata resolusi tinggal resolusi. 2012 akhirnya menjadi waktu yang sangat menyibukkan, sibuk daftar sana sini, tes sana sini, TOEFL, TOEIC, hingga tes ngambil master. Dan akhirnya kuliah lagi. Tak terasa, bahkan saya lupa apa yang saya harapkan untuk tahun 2012. Kemudian, hal yang saya pikirkan di malam tahun baru ini adalah apakah saya sudah benar benar merasa bahagia? Untuk menjawab hal ini, tidak ada salahnya bila saya mengambil dan memfilosofikan teorinya Mbah Einsten. Bahwa tiada hal yang benar-benar mutlak dan pasti, karena kepastian itu sendiri adalah tak lebih ketidakpastian. Keyakinan itu sendiri ada dalam ketidakyakinan. Relatif. Ya, bahagia pun relatif. 

Lalu, 2013? Hmm, tepat jam 01.35 ini saya beresolusi tahun ini saya harus benar benar merasa "Hidup". 
"Hidup" dengan tanda kutip itu bukan berarti saya saat ini tidak hidup. "Hidup" dengan tanda kutip itu tanda bahwa setidaknya saya harus tahu bagaimana untuk bertahan tidak hanya hingga akhir 2013 tetapi untuk selamanya merasakan hidup. Hingga, saya pada nantinya di penghujung 2013 akan bisa benar-benar bilang bahwa 2013 adalah the best year I ever had.

      
Happy 2013! Cheers....