Monday, May 28, 2012

#Day22 Sekedar Berbagi; Teman-Teman Lelaki Saya part I :P

Ada hal yang mungkin sudah diketahui oleh orang banyak, atau mungkin belum diketahui mengenai saya yang lebih senang berteman dengan para cowok alias laki-laki atau pria. Tidak ada alasan khusus sebenarnya kenapa saya lebih suka berteman dengan laki-laki. Tapi saya lebih senang dengan konsep pertemanan yang ditawarkan oleh mereka, tidak perlu terlalu emosional dalam pertemanan namun tetap menjunjung rasa solidaritas.
Berikut adalah teman-teman lelaki saya. (Aiiih...gaya!)

Nama panjangnya Rangga Fatahillah atau lebih dikenal dengan nama Acun. Pertama melihatnya mungkin kita akan dapat dengan mudah dibohongi oleh tampang dinginnya tapi sebenarnya dia itu tidak 'cool' seperti yang banyak orang tahu. Malah lebih bisa disebut 'bocor' dan menyebalkan. Acun itu orang yang cerdas, sangat cerdas malah untuk menjadi saingan saya. Banyak hal-hal sederhana yang saya ketahui namun bisa dipatahkan oleh orang ini. Kecintaannya terhadap musik mungkin adalah nilai plus lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan pun bagi saya pertanyaan yang sulit dan menjebak. Itu mengapa dia selalu bilang kalau saya selalu berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya atau dia selalu berujar " Lo mah hati-hati banget Ma kalo ngomong sama gue." Salah satu hobinya adalah selalu mengaitkan novel-novel yang dia baca dengan keadaan sekitar yang dia alami, memetaforakan Winston dalam 1984 dengan dirinya, ataupun menyamakan Chesire Cat dalam Alice dengan dirinya pula.   Ya...begitulah Acun.

Nur Ali nama lengkapnya, biasa dipanggil Ali Bincuy . Ali itu teman yang menyenangkan. Dia diam saja sudah lucu apalagi bicara. Ali itu salah satu orang yang selalu membuat anekdot atau selepatan-selepatan lucu tentang setiap materi yang dia dapat ketika kuliah. Dia tidak akan pernah bisa diam karena ada-ada saja ide leluconnya setiap hari. Baginya diam itu sama seperti diserbu ribuan nyamuk alias gatel. Namun, dibalik itu semua Ali itu adalah sosok yang paling nyantai dalam berteman tapi bisa sangat membantu dalam keadaan apapun dan dia ternyata anak yang sangat patuh di rumahnya. Anak laki-laki yang disayang oleh keluarganya.   

Rijal Azman adalah teman karibnya Ali Bincuy yang tadi itu. Mereka memang sebelas dua belas. Rijal namanya dengan 'J' bukan 'Z' karena kalau diganti dengan 'Z' maka artinya akan berbeda, artinya bukan laki-laki lagi katanya. Dia adalah yang paling muda diantara semua teman-teman saya. Laki-laki satu ini dengan tidak diam-diam mengatakan kalau dia sangat mengidolakan Bruce Lee. Sampai sekarang saya masih bingung kenapa dia sangat mengidolakan dan ingin menjadi Bruce Lee. Maka dari itu kami menyebutnya Jali (Jal Lee). Pesan saya cuma satu tentang Jali, jangan pernah terkecoh oleh tampangnya yang imut dan kalem karena sebenarnya itu hanyalah image yang dia ciptakan, karena salah satu karakternya yang masih sangat dia jaga sampai sekarang adalah Narsistic atau Celeb Syndrom. Maka dari itu jangan pernah sekali pun meminjamkannya kaca.   



Lelaki ini adalah lelaki yang sangat mandiri. Dia bisa jauh-jauh merantau dari Kalimantan ke Bekasi dan sampai sekarang masih terus berpikir bagaimana untuk bertahan hidup di Bekasi. Nama lengkapnya Budi Nasrullah biasa dipanggil Arul. Hobinya yang paling utama adalah bermain musik. Hampir semua alat musik dapat dikuasainya, dan berulang kali juga ikut kerja sekaligus tinggal di sebuah studio musik. Dia pun guru musik yang menyenangkan. Setahun lebih bekerja bersama Arul membuat saya tahu dan hapal tentang dirinya. Arul itu memang orang bebas, tak bisa untuk terikat. Tapi dia menurut saya adalah teman yang paling supel dan memiliki rasa solidaritas paling tinggi.




*Tunggu Bagian 2 coming soon....

#Day21 MV Keren....


Music video ini keren, dan ada cerita didalamnya. Tidak seperti MV boyband/girlband Korea lainnya yang hanya menampilkan tampang ganteng dan cantik dan lonjak-lonjakan badan.  


Walaupun kita tidak mengerti lirik dari lagu ini, tapi kita dapat memahaminya dari alur cerita yang digambarkan melalui sketsa-sketsa gambar yang disajikan. MV ini berkisah tentang laki-laki dan perempuan yang bertemu di sebuah konser dan saling suka. Namun, apa daya waktu dan kesempatan tidak berpihak kepada mereka.

MV ini juga menggambarkan pandangan orang-orang Korea tentang Tuhan, Surga, dan Neraka dan juga beberapa adegan lucu seperti bertemu Michael Jackson di surga.

Hmm, tonton dulu aja deh. Baru komentar.





*MV diambil dari You Tube (penyanyi: Urban Zakappa)

Sunday, May 27, 2012

#Day20 Untuk Abah


Genap dua tahun sudah beliau pergi, namun lantunan Al-Quran yang menyentil kesunyian subuh itu masih terngiang. Ajarannya tentang Tajwid, Tauhid, Thoharoh, tentang imam Syafii hingga Hanafi dan Hambali masih tetap ada. Masihku ingat suara panggilannya ketika subuh, hanya dengan satu kali panggilan maka si pemalas itu sanggup untuk membuka mata dan rela untuk menunggunya pulang dari masjid guna mempelajari ayat-ayat suci. Masih teringat jelas dehamnya tanda dia tidak setuju. Dan hanya satu kali juga, maka si bandel itu tidak berani untuk melakukan hal yang dilarang itu bahkan hanya untuk menonton TV di jam 7 malam sekalipun. Aku pun masih mengingat ketegaannya untuk membiarkan anak umur 10 tahun itu menangis memohon untuk tidur karena PR sekolah yang sulit atau tidak mau dikerjakannya. Bahkan aku masih hapal selera makanannya, tanpa penyedap rasa. Beliau adalah kakekku. 

Beliau tak pernah marah karena setiap orang tidak ingin membuatnya marah. Terlalu menyakitkan bagi kami untuk mendengarkan kemarahannya. Ya, tak ada satupun diantara kami yang ingin membangunkan kemarahannya. Sikapnya seperti itu lah yang membuatku kadang menggambarkannya sebagai seorang tirani. Namun, sampai saat ini aku masih sangat mengerti bahwa sebenarnya itu adalah bentuk kasih sayangnya, kasih sayang yang masih kurasa dan sangat terasa ketika aku tinggal dengannya walau hanya satu tahun.

Ya, kakekku...
Seorang kakek yang memberikan kasih sayangnya lengkap kepada semua cucunya. 
Tanpa ada yang dibedakan.
Kakekku....
Sosok tegar nan bersahaja, seorang pebisnis yang toleran, dan cukup demokrat.







     

#Day19 Tulisan Perempuan 2


 *Sambungan Posting sebelumnya
 
Lebih jelasnya lagi, dan kalau boleh saya memparafrasekan essaynya Susan Gubar dan Sandra M. Gilbert yang berjudul A Madwoman in The Attic, terdapat asumsi bahwa tulisan itu bergender laki-laki atau terkenal dengan istilah ‘Pena itu adalah penis metaforis’. Akibat asumsi ini, setiap tulisan akhirnya dianggap sebagai hasil dari pengalaman dan kekhasan laki-laki serta berkenaan dengan seksualitas dan karakter laki-laki. Metafora inilah yang akhirnya menimbulkan kegelisahan dalam diri perempuan karena penis envy yang dimiliki oleh perempuan mempertanyakan bagaimana seorang perempuan dapat menulis.

Metafora ini jugalah yang akhirnya mengkaji dan mendefinisikan bahwa teks itu bersifat laki-laki. Lanjut Gubar dan Gilbert juga mengatakan bahwa sebuah tulisan itu adalah kelanjutan dari tulisan lain, dan akan dilanjutkan dengan tulisan baru. Mereka juga menyebut ini dengan istilah ‘relation of sonship’, karena tulisan adalah anak dari bapak, dan akan menjadi bapak bagi tulisan yang lain. (Bapak disini diartikan Tuhan)

Argumen ini juga yang akhirnya mendefinisikan bahwa tulisan itu bergender laki-laki. Ketidakbisaan perempuan untuk menjadi bapak menimbulkan pertanyaan kembali tentang kemampuan perempuan dalam menggambarkan atau menuangkan teks itu sendiri atau dengan kata lain ketidakbisaan itu menyebabkan tidak ada tempat bagi perempuan untuk menulis. 

Terlepas dari pendapat Gubar dan Gilbert, ketiadaan tempat untuk seorang perempuan menulis juga didasari oleh dominasi gender laki-laki. Dominasi yang akhirnya menciptakan asumsi-asumsi mengenai perempuan dan bagaimana menjadi perempuan. Asumsi yang sudah melekat kuat bahkan dari nenek hingga ibu, ya, karena ternyata asumsi-asumsi yang berkembang itu sendiri dikekalkan oleh perempuan itu sendiri. 

Asumsi-asumsi itu yang tercipta menjadi sebuah pengalaman itu tertuang dalam tulisan-tulisan mereka. Itulah mengapa tulisan-tulisan perempuan hanya berkisar pada pengalaman mereka dan terkesan cengeng. Sebutlah, Austen yang seluruh tema novelnya bertemakan pernikahan. Ataupun Jane Eyrenya Charlotte yang menceritakan tentang menjadi seorang istri dan menjadi wanita kedua.

 
Work cited: 
Sandra M Gilbert and Susan Gubar. Madwoman in The Attic. Columbia, USA: University of Missouri Press, 2009.

*Masih ada sambungannya